Blog Image

Blog

Gimana sih asal mula Flannel?

November 28, 2018
Gimana sih asal mula Flannel? image

Hei Eonni! Membahas koleksi terbaru Dresssofia yaitu Oxford Flanel, kali ini Sofi akan meng-share ke Eonni semua darimana sih awal mula Flanel ini, karena flannel emang cocok banget dipakai buat jadi mdel baju apapun, termasuk yang baru sofi keluarin ini, yap! Hanbok Flanel!

Nah, awalnya kemeja flannel ini diidentikan dengan para pekerja keras yang turun langsung di lapangan nih, dan dipakai orang-orang yang berada di garis depan dan bersentuhan langsung dengan objek pekerjaan di lapangan.

Kain flannel sendiri berasal dari Bahasa Wales, yaitu gwlanen yang artinya “bahan wol”

Menurut sejarah sendiri flannel ini ditemukan pada awal abad ke-16 di Wales, dengan sebutan flannelette. Pada saat itu flannel jadi andalan para petani untuk melindungi diri dari cuaca dingin dan juga rerantingan pohon karena bahannya yang hangat dan tebal.

Di Perancis, istilah flannel dipakai di akhir abad ke-17. Dan pada awal abad ke-18, di Jerman menyebutnya flanell atau ditulis flannel dalam Bahasa inggris.

Awalnya, flannel ini hanya diproduksi secara tradisional dan rumahan, dibuat dari benang wol yang digaruk pada proses finishing-nya

Barulah pada abad ke-18 sejalan dengan adanya revolusi industry, terjadi perubahan besar-besaran di dalam praktisi Industri. Flanel mulai di produksi secara massal dan menjadi produk pabrikasi.

Mengikuti perkembangan jaman dan juga mempertimbangkan biaya bahan baku yang tinggi, bahan wol lambat laun mulai digantikan dengan serat kapas (cotton), campuran sutera dan serat sintetis.

Pada tahun 1889, seorang asal Michigan, Amerika Serikat, yaitu Hamilton Carhatt (1855-1937) mendirikan perusahaan yang dinamakan Carhatt. Carhatt mengklaim sebagai yang pertama kali menemukan kemeja berbahan flanel, termasuk motif kotak-kotak yang terinspirasi dari Kilt, pakaian tradisional Skotlandia.

Carhatt berusaha untuk menciptakan pakaian tahan banting, yang nyaman dipakai, namun tetap berkarakter, untuk para pekerja lapangan yang aktif. Pada awalnya mereka membuat pakaian flanel ini untuk para engineers yang bekerja di jalur kereta api.

Pada awal abad ke-20, flanel tidak hanya diproduksi untuk cuaca dingin, tetapi mulai disesuaikan dengan musim-musim yang ada. Dengan memaksimalkan pencampuran kapas (cotton) dengan sutera, flanel kini menjadi lebih tipis dan ringan. Sehingga kemeja flanel dapat digunakan di cuaca yang hangat.

Di abad yang sama, flanel masuk ke Amerika Utara. Flanel dengan motif kotak-kotak diidentikkan dengan para pekerja kasar, pekerja lapangan, terutama petani, gembala, pekerja tambang, penebang pohon, dan mereka yang bekerja di luar ruangan. Daya tahan dari bahan flanel, kemudahannya untuk dicuci, dan juga kehangatannya, memungkinkan mereka bebas bergerak dan bekerja dalam jangka waktu yang lama di dalam suhu yang dingin. Sejak saat itu, para penebang pohon identik dengan kemeja flanel dan sepasang sepatu boots.

Pada saat Perang Dunia I pecah di tahun 1914, flanel digunakan sebagai seragam dan selimut di medan pertempuran. Dan juga digunakan sebagai bahan alternatif pengganti perban di rumah sakit. Dan ketika perang berakhir, dunia berubah. Perbedaan antar-kelas di masyarakat menjadi bias. Selama Great Depression yang datang mengikuti Perang Dunia, kemeja flanel yang pada mulanya identik dengan kalangan kelas bawah, lambat laun naik kasta dan menjadi milik seluruh lapisan sosial. Pada masa ini pula, kemeja flanel diidentikkan dengan kelaki-lakian.

Pada tahun 1939, Red Flannel Day mulai dilaksanakan secara rutin di Cedar Springs, Michigan, setelah kota tersebut menjadi terkenal di seluruh negeri karena memproduksi sweater berbahan flanel warna merah. Kota ini masih merayakan Red Flannel Festival sampai sekarang, jatuh pada weekend terakhir di bulan September dan weekend pertama di bulan Oktober.

Pada tahun 1963, The Beach Boys kembali membuat kemeja flanel ini terkenal, setelah mereka berpose mengenakan kemeja flanel sambil mengangkat papan luncur untuk cover album mereka, “Surfer Girl”.

Di awal 1990-an, group band asal Seattle, Nirvana (yang di motori oleh Kurt Cobain) dan Pearl Jam mempopulerkan kembali kemeja flanel dengan motif kotak-kotak. Masa keemasan grunge saat itu ditandai dengan perubahan pola berpakaian di kalangan anak-anak muda. Tidak ada lagi jaket kulit yang sempat berjaya oleh kalangan glam rock. Trend beralih, mereka beramai-ramai mengenakan kombinasi kemeja flanel, jeans, dan sepatu boots juga sneakers.

Nah, dan Sofi coba membuat Hanbok dengan bahan yang belum pernah Sofi coba sebelumnya, yaitu Flanel, dengan memantaskan model dan juga pemilihan bahan dan warna flannel yang tepat, akhirnya Sofi membuat koleksi flannel dan salah satunya ada Hanbok flannel.